Selasa, 28 September 2010

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN ASFIKSIA NEONATURUM

DEFINISI

Asfiksia Neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan atau segera lahir (Prawiro Hardjo, Sarwono, 1997).
Asfiksia Neonatotum adalah keadaan dimana bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Keadaan ini biasanya disertai dengan keadaan dimana hipoksia dan hiperkapneu serta sering berakhir dengan asidosis (Santoso NI, 1992).

ETIOLOGI DAN FAKTOR PREDISPOSISI ASFIKSIA.
Menurut pedoman Depkes RI Santoso NI, 1995.  Ada beberapa faktor etiologi dan predisposisi terjadinya asfiksiaa, antara lain sebagai berikut:
Faktor Ibu
Hipoksia ibu akan menimbulkan hipoksia janin dengan segala akibatnya. Hipoksia ibu dapat terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian analgetika atau anesthesi dalam gangguan kontraksi uterus, hipotensi mendadak karena pendarahan, hipertensi karena eklamsia, penyakit jantung dan lain-lain.
Faktor  Placenta.
         Yang meliputi solutio plasenta, pendarahan pada plasenta previa, plasenta tipis, plasenta kecil, plasenta tak menempel pada tempatnya.
Faktor Janin dan Neonatus
         Meliputi tali pusat menumbung, tali pusat melilit ke leher, kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir, gemelli, IUGR, kelainan kongenital dan lain-lain.
Faktor Persalinan
        Meliputi partus lama, partus tindakan dan lain-lain (Ilyas Jumiarni, 1995).

GEJALA KLINIK
Gejala klinik Asfiksia neonatorum yang khas meliputi :
Pernafasan terganggu, Detik jantung berkurang, Reflek / respon bayi melemah, Tonus otot menurun, Warna kulit biru atau pucat.

DIAGNOSIS
                Asfiksia pada bayi biasanya merupakan kelanjutan dari anoksia atau hipoksia janin. Diagnosa anoksia / hipoksia dapat dibuat dalam persalinan dengan ditemukan tanda-tanda gawat janin untuk menentukan bayi yang akan dilahirkan terjadi asfiksia, maka ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatikan.
Dengan Menilai Apgar Skor
Apgar Skor mengambil batas waktu 1 menit karena dari hasil penyelidikan sebagian besar bayi baru lahir mempunyai apgar terendah pada umur tersebut dan perlu dipertimbangkan untuk melakukan tindakan resusitasi aktif. Sedangkan nilai apgar lima menit untuk menentukan prognosa dan berhubungan dengan kemungkinan terjadinya gangguan neurologik di kemudian hari. Ada lima tanda (sign) yang dinilai oleh Apgar, yaitu :

Penilaian Apgar.
Tanda tanda vital
Nilai = 0
Nilai = 1
Nilai = 2
1.   Appearance
(warna kulit)
Seluruh tubuh biru atau putih
Badan merah,
kaki biru
Seluruh tubuh kemerah-merahan
2.  Pulse
(bunyi jantung)
Tidak ada
Kurang dari
100 x/ menit
Lebih dari
150 x/ menit

3.Grimance (reflek)
Tidak ada

Menyeringai

Batuk dan bersin
4.  Activity
(tonus otot)
Lunglai

Fleksi ekstremitas
Fleksi kuat, gerak aktif
5.Respirotary effort     (usaha bernafas)
Tidak ada
Lambat atau  tidak ada
Menangis kuat atau keras


Ada 3 derajat Asfiksia dari hasil Apgar diatas yaitu :
1.       Nilai Apgar 7-10, Vigorous baby atau asfiksia ringan.
      Bayi dalam keadaan baik sekali. Tonus otot baik, seluruh tubuh kemerah-merahan.
      Dalam hal ini bayi dianggap sehat dan tidak memerlukan tindakan istimewa.
2.       Nilai Apgar 4-6 Mild Moderat atau asfiksia sedang.
Pada pemeriksaan fisik akan dilihat frekuensi jantung lebih dari 100 kali permenit, tonus otot kurang baik, sianosis, reflek iritabilitas tidak ada.
3.       Nilai Apgar 0-3, asfiksia Berat
      Pada pemeriksaan ditemukan frekuensi jantung kurang dari 100 kali permenit, tonus
      otot buruk, sianosis berat dan kadang-kadang pucat, reflek iritabilitas tidak ada.

Penatalaksanaan Berdasarkan Penilaian Apgar Skor Adalah Sebagai Berikut :
          1.   Apgar skor menit I : 0-3
Jaga agar bayi tidak kedinginan, sebab dapat menimbulkan hipotermis dengan
segala akibatnya. Jangan diberi rangsangan taktil, jangan diberi obat perangsang nafas lekukan resusitasi. Lakukan segera intubasi dan lakukan mouth ke tube atau pulmanator to tube ventilasi. Bila intubasi tidak dapat, lakukan mouth to mouth respiration kemudian dibawa ke ICU.
     Ventilasi Biokemial
      Bila fasilitas Blood gas tidak ada, berikan Natrium Bicarbonat pada asfiksia berat dengan dosis 2-4 mcg/kg BB, maksimum 8 meg/kg BB / 24 jam. Ventilasi tetap dilakukan. Pada detik jantung kurang dari 100/menit lakukan pijat jantung 120/menit, ventilasi diteruskan 40 x menit. Cara 3-4 x pijat jantung disusul 1 x ventilasi (Lab./UPF Ilmu Kesehatan Anak, 1994 : 167).
2.  Apgar skor menit I : 4-6
Seperti yang diatas, jangan dimandikan, keringkan seperti diatas.
Beri rangsangan taktil dengan tepukan pada telapak kaki, maksimum 15-30 detik.
Bila belum berhasil, beri O2 dengan atau tanpa corong (lebih baik O2 yang dihangatkan).
      Skor apgar 4-6 dengan detik jantung kurang dari 100 kali permenit lakukan bag dan mask ventilation dan pijat jantung.
3.  Apgar skor menit I : 7-10
      Bersihkan jalan nafas dengan kateter dari lubang hidung dahulu (karena bayi adalah bernafas dengan hidung) sambil melihat adakah atresia choane, kemudian mulut, jangan terlalu dalam hanya sampai fasofaring. Kecuali pada bayi asfiksia dengan ketuban mengandung mekonium, suction dilakukan dari mulut kemudian hidung karena untuk menghindari aspirasi paru.
      Bayi dibersihkan (boleh dimandikan) kemudian dikeringkan, termasuk rambut kepala, karena kehilangan panas paling besar terutama daerah kepala. Observasi tanda vital sampai stabil, biasanya 2 jam sampai 4 jam.

Pelaksanaan Resusitasi
                   Segera setelah bayi baru lahir perlu diidentifikasi atau dikenal secara cepat supaya bisa dibedakan antara bayi yang perlu diresusitasi atau tidak. Tindakan ini merupakan langkah awal resusitas bayi baru lahir. Tujuannya supaya intervensi yang diberikan bisa dilaksanakan secara tepat dan cepat (tidak terlambat).

Membuka Jalan Nifas
             1. Tujuan : Untuk memastikan terbuka tidaknya jalan nafas.
             2. Metode :
            
Meletakkan bayi pada posisi yang benar.
             Letakkan bayi secara terlentang atau miring dengan leher agak eksentensi/ tengadah. Perhatikan leher bayi agar tidak mengalami ekstensi yang berlebihan atau kurang. Ekstensi karena keduanya akan menyebabkan udara yang masuk ke paru-paru terhalangi.
             Letakkan selimut atau handuk yang digulug dibawah bahu sehingga terangkat 2-3 cm diatas matras. Apabila cairan/lendir terdapat baru dalam mulut, sebaiknya kepala bayi dimiringkan supaya lendir berkumpul di mulut (tidak berkumpul di farings bagian belakang) sehingga mudah disingkirkan.
            


Membersihkan Jalan Nafas
Apabila air ketuban tidak bercampur mekonium hisap cairan dari mulut dan hidung, mulut dilakukan terlebih dahulu kemudian hidung.
Apabila air ketuban tercampur mekonium, hanya hisap cairan dari trakea, sebaiknya menggunakan alat pipa endotrakel (pipa ET).
Urutan kedua metode membuka jalan nafas ini bisa dibalik, penghisapan   terlebih dahulu baru meletakkan bayi dalam posisi yang benar, pembersihan jalan nafas pada semua bayi yang sudah mengeluarkan mekoneum, segera setelah lahir (sebelum baru dilahirkan) dilakukan dengan menggunakan keteter penghisap no 10 F atau lebih. Cara pembersihannya dengan menghisap mulut, farings dan hidung.

Mencegah Kehilangan Suhu Tubuh / Panas
             1.    Tujuan : Mencegah komplikasi metabolisme akibat kehilangan panas.
             2.    Metode
             Meletakkan bayi terlentang dibawah pemancar panas (Infant warmer) dengan temperatur untuk bayi aterm 34°C, untuk bayi preterm 35°C.
             Tubuh dan kepala bayi dikeringkan dengan menggunakan handuk dan selimut hangat, keuntungannya bayi bersih dari air ketuban, mencegah kehilangan suhu tubuh melalui evaporosi serta dapat pula sebagai pemberian rangsangan taktik yang dapat menimbulkan atau mempertahankan pernafasan.
             Untuk bayi sangat kecil (berat badan kurang dari 1500 gram) atau apabila suhu ruangan sangat dingin dianjurkan menutup bayi dengan sehelai plastik tipis yang tembus pandang.

Pemberian Tindakan VTP (Ventilasi Tekanan Positif)
1.    Tujuan : untuk membantu bayi baru lahir memulai pernafasan.
2.    Metode :
Pastikan bayi diletakkan dalam posisi yang benar.
Agar VTP efektif kecepatan memompa (Kecepatan Ventilasi dan tekanan ventilasi harus sesuai, kecepatan ventilasi sebaiknya 40-60 kail/menit.
Tekanan ventilasi yang dibutuhkan sebagai berikut :
Nafas pertama setelah lahir membutuhkan 30-40 cm H2O.
Setelah nafas pertama membutuhkan 15-20 cm H2O.
Bayi dengan kondisi / penyakit paru-paru yang berakibat turunnya   compliance membutuhkan 20-40 cm H2O.
Tekanan ventilasi hanya dapat diukur apabila digunakan balon yang mempunyai pengukur tekanan.
Observasi gerak dada bayi
Adanya gerakan dada bayi naik turun merupakan bukti bahwa sungkup terpasang dengan baik dan paru-paru mengembang. Bayi seperti menarik nafas dangkal. Apabila dada bergerak maksimum, bayi seperti menarik nafas panjang, menunjukkan paru-paru terlalu mengembang, yang berarti tekanan diberikan terlalu tinggi. Hal ini dapat menyebabkan pneumotorax.

Observasi gerak perut bayi
Gerak perut tidak dapat dipakai sebagai pedoman ventilasi yang efektif. Gerak perut mungkin disebabkan masuknya udara kedalam lambung.
Penilaian suara nafas bilateral
Suara nafas didengar dengan menggunakan stetoskop. Adanya suara nafas di kedua paru-paru merupakan indikasi bahwa bayi mendapat ventilasi yang benar.
Observasi pengembangan dada bayi
Apabila dada terlalu berkembang, kurangi tekanan dengan mengurangi  meremas balon. Apabila dada kurang berkembang, mungkin disebabkan oleh salah satu sebab berikut :
Perlekatan sungkup kurang sempurna. Arus udara terhambat. Tidak cukup tekanan. (Prawirohardjo Sarwono, 2000; 351-254).

Pemberian Obat-Obatan Penunjang
Obat-obatan diperlukan apabila frekuensi jantung bayi tetap 80 per menit walaupun telah dilakukan ventilasi adekuat (dengan oksigen 100%) dan kompresi dada atau frekuensi jantung nol.

Obat-obatan yang diperlukan pada bayi asfiksia :
      1.    Beri adrenalin (larutan 1 : 10.000) dengan dosis 0,1-0,3 ml/kg berat badan, apabila bayi mengalami bradikardia menetap diberikan sublingual atau diberikan intravena, sementara NaHCO3 tetap diberikan, disertai pernafasan buatan.
      2.    Natrium bicarbonat (NaHCO3) diberikan dengan dosis 2 ml/kg berat badan (cairan 7,5%) dilarutkan dengan Dextrose 10% dalam perbandingan 1 : 1 disuntikkan perlahan-lahan kedalam Vena umbilikus dalam waktu 5 menit.
3.      Infus NaCL 0,9% atau Ringer laktat 10 ml/kg berat badan.

Prognosa
             Asfiksia ringan / normal : Baik
Asfiksia sedang tergantung kecepatan penatalaksanaan bila cepat prognosa baik.                  
                   Asfiksia berat badan dapat menimbulkan kematian pada hari-hari pertama, atau kelainan syaraf permanen. Asfiksia dengan pH 6,9 dapat menyebabkan kejang sampai koma dan kelainan neurologis yang permanent misalnya cerebal palsy, mental retardation (Wirjoatmodjo, 1994 : 68).

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

     Tahap pengkajian

Biodata atau identitas pasien :
Bayi meliputi nama tempat tanggal lahir jenis kelamin
Orangtua meliputi : nama (ayah dan ibu, umur, agama, suku atau kebangsaan, pendidikan, penghasilan pekerjaan, dan alamat (Talbott Laura A, 1997 : 6).
Riwayat kesehatan

Riwayat antenatal pada kasus asfiksia berat yaitu :
Keadaan ibu selama hamil dengan anemia, hipertensi, gizi buruk, merokok ketergantungan obat-obatan atau dengan penyakit seperti diabetes mellitus, kardiovaskuler dan paru.
Kehamilan dengan resiko persalinan preterm misalnya kelahiran multiple, inkompetensia serviks, hidramnion, kelainan kongenital, riwayat persalinan preterm.
Pemeriksaan kehamilan yang tidak kontinyuitas atau periksa tetapi tidak teratur dan periksa kehamilan tidak pada petugas kesehatan.
Gerakan janin selama kehamilan aktif atau semakin menurun.
Hari pertama hari terakhir tidak sesuai dengan usia kehamilan (kehamilan postdate atau preterm).
Riwayat natal komplikasi persalinan juga mempunyai kaitan yang sangat erat dengan permasalahan pada bayi baru lahir. Yang perlu dikaji :
Kala I : ketuban keruh, berbau, mekoneal, perdarahan antepartum baik solusio plasenta maupun plasenta previa.
Kala II : persalinan lama, partus kasep, fetal distress, ibu kelelahan, persalinan dengan tindakan (vacum ekstraksi, forcep ektraksi).
Adanya trauma lahir yang dapat mengganggu sistem pernafasan.
Persalinan dengan tindakan bedah caesar, karena pemakaian obat penenang (narkose) yang dapat menekan sistem pusat pernafasan.

Riwayat post natal  Yang perlu dikaji antara lain :
APgar score bayi baru lahir 1 menit pertama dan 5 menit kedua AS (0-3) asfiksia berat, AS (4-6) asfiksia sedang, AS (7-10) asfiksia ringan.
Berat badan lahir : kurang atau lebih dari normal (2500-4000 gram). Preterm/BBLR < 2500 gram, untu aterm ³ 2500 gram lingkar kepala kurang atau lebih dari normal (34-36 cm).
Adanya kelainan kongenital : Anencephal, hirocephalus anetrecial aesofagal.

Pola nutrisi
Yang perlu dikaji pada bayi dengan post asfiksia berat gangguan absorbsi gastrointentinal, muntah aspirasi, kelemahan menghisap sehingga perlu diberikan cairan parentral atau personde sesuai dengan kondisi bayi untuk mencukupi kebutuhan elektrolit, cairan, kalori dan juga untuk mengkoreksi dehidrasi, asidosis metabolik, hipoglikemi disamping untuk pemberian obat intravena.

Pola eliminasi
Yang perlu dikaji pada neonatus adalah
BAB : frekwensi, jumlah, konsistensi.
BAK : frekwensi, jumlah


Latar belakang sosial budaya
Kebudayaan yang berpengaruh terhadap kejadian asfiksia. Kebiasaan ibu merokok, ketergantungan obat-obatan tertentu terutama jenis psikotropika. Kebiasaan ibu mengkonsumsi minuman beralkohol, kebiasaan ibu melakukan diet ketat atau pantang makanan tertentu.

Hubungan psikologis
Sebaiknya segera setelah bayi baru lahir dilakukan rawat gabung dengan ibu jika kondisi bayi memungkinkan. Hal ini berguna sekali dimana bayi akan mendapatkan kasih sayang dan perhatian serta dapat mempererat hubungan psikologis antara ibu dan bayi. Lain halnya dengan asfiksia karena memerlukan perawatan yang intensif.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum
Pada neonatus post asfiksia berat, keadaannya lemah dan hanya merintih. Keadaan akan membaik bila menunjukkan gerakan yang aktif dan menangis keras. Kesadaran neonatus dapat dilihat dari responnya terhadap rangsangan. Adanya BB yang stabil, panjang badan sesuai dengan usianya tidak ada pembesaran lingkar kepala dapat menunjukkan kondisi neonatus yang baik. .

Tanda-tanda Vital
Neonatus post asfiksia berat kondisi akan baik apabila penanganan asfiksia benar, tepat dan cepat. Untuk bayi preterm beresiko terjadinya hipothermi bila suhu tubuh < 36 °C dan beresiko terjadi hipertermi bila suhu tubuh < 37 °C. Sedangkan suhu normal tubuh antara 36,5°C – 37,5°C, nadi normal antara 120-140 kali per menit respirasi normal antara 40-60 kali permenit, sering pada bayi post asfiksia berat pernafasan belum teratur (Potter Patricia A, 1996 : 87).

Kulit
Warna kulit tubuh merah, sedangkan ekstrimitas berwarna biru, pada bayi preterm terdapat lanogo dan verniks.
Kepala
Kemungkinan ditemukan caput succedaneum atau cephal haematom, ubun-ubun besar cekung atau cembung kemungkinan adanya peningkatan tekanan intrakranial.
Mata
Warna conjunctiva anemis atau tidak anemis, tidak ada bleeding conjunctiva, warna sklera tidak kuning, pupil menunjukkan refleksi terhadap cahaya.
Hidung.
Terdapat pernafasan cuping hidung dan terdapat penumpukan lendir.
Mulut
Bibir berwarna pucat ataupun merah, ada lendir atau tidak.

Telinga
Perhatikan kebersihannya dan adanya kelainan
Leher
Perhatikan kebersihannya karena leher nenoatus pendek
Thorax.
Bentuk simetris, terdapat tarikan intercostal, perhatikan suara wheezing dan ronchi, frekwensi bunyi jantung lebih dari 100 kali per menit.
Abdomen
Bentuk silindris, hepar bayi terletak 1 – 2 cm dibawah  arcus costaae     pada garis papila  mamae, lien tidak teraba, perut buncit berarti adanya asites atau tumor, perut cekung adanya hernia diafragma, bising usus timbul 1 sampai 2 jam setelah masa kelahiran bayi, sering terdapat retensi karena GI Tract belum sempurna.
Umbilikus
Tali pusat layu, perhatikan ada pendarahan atau tidak, adanya tanda – tanda infeksi pada tali pusat.
Genitalia
Pada neonatus aterm testis harus turun, lihat adakah kelainan letak muara uretra pada neonatus laki – laki, neonatus perempuan lihat labia mayor dan labia minor, adanya sekresi mucus keputihan, kadang perdarahan.
Anus
Perhatiakan adanya darah dalam tinja, frekuensi buang air besar serta warna dari faeses.
Ekstremitas
Warna biru, gerakan lemah, akral dingin, perhatikan adanya patah tulang atau adanya kelumpuhan syaraf atau keadaan jari-jari tangan serta jumlahnya.
Refleks
Pada neonatus preterm post asfiksia berat reflek moro dan sucking lemah. Reflek moro dapat memberi keterangan mengenai keadaan susunan syaraf pusat atau adanya patah tulang (Iskandar Wahidiyat, 1991 : 155 dan Potter Patricia A, 1996 : 109-356).


Data Penunjang
Darah
Nilai darah lengkap pada bayi asfiksia terdiri dari :
Hb (normal 15-19 gr%) biasanya pada bayi dengan asfiksia Hb cenderung turun karena O2 dalam darah sedikit.
Leukositnya lebih dari 10,3 x 10 gr/ct (normal 4,3-10,3 x 10 gr/ct) karena bayi preterm imunitas masih rendah sehingga resiko tinggi.
Trombosit (normal 350 x 10 gr/ct)
Distrosfiks pada bayi preterm dengan post asfiksi cenderung turun karena sering terjadi hipoglikemi.


Urine
Nilai serum elektrolit pada bayi post asfiksia terdiri dari :
Natrium (normal 134-150 mEq/L)
Kalium (normal 3,6-5,8 mEq/L)
Kalsium (normal 8,1-10,4 mEq/L)
Photo thorax
Pulmonal tidak tampak gambaran, jantung ukuran normal.

Analisa data dan perumusan masalah

Sign / Symptorn

Kemungkinan Penyebab
Masalah
1.         Pernafasan tidak teratur, pernafasan cuping hidung,  cyanosis, ada lendir pada hidung dan mulut, tarikan inter-costal, abnormalitas gas darah arteri.

-     Riwayat partus lama
-     Pendarahan pengobatan.
-     Obstruksi pulmonary
-     Prematuritas
Gangguan pemenuhan kebutuhan O2

2.    Akral dingin,  cyanosis pada ekstremmitas, keadaan umum lemah, suhu tubuh dibawah   normal

-     lapisan lemak dalam kulit tipis

Resiko terjadinya hipotermia
3.    Keadaan umum  lemah, reflek menghisap lemah, masih terdapat retensi  pada sonde
-     Reflek  menghisap  lemah
Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi.
4.   Suhu tubuh diatas normal, tali pusat   layu, ada tanda-tanda infeksi, abnormal kadar leukosit, kulit kuning, riwayat persalinan dengan ketuban mekoncal
 


-     Sistem Imunitas yang belum sempurna
-     Ketuban mekoncal
-     Tindakan yang  tidak aseptik
Resiko terjadinya infeksi
5.   Akral dingin
Ekstremitas pucat, cyanosis, hipotermi, distrostik rendah atau dibawah harga  normal.
-     Metabolisme meningkat
-     Intake yang kurang.
-     Obstruksi pulmonary
Resiko terjadinya hipoglikemia
6.   Bayi dirawat di dalam inkubator di ruang intensif, belum ada kontak antara ibu dan bayi
-     Perawatan Intensif
Gangguan hubungan interpersonal antara ibu dan bayi.
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada pasien post asfiksia berat antara lain:
Gangguan pemenuhan kebutuhan O2 sehubungan dengan post asfiksia berat.
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi sehubungan dengan reflek menghisap lemah.
Resiko terjadinya hipoglikemia
Resiko terjadinya hipotermia
Resiko terjadinya infeksi
Gangguan hubungan interpersonal antara ibu dan bayi sehubungan dengan rawat terpisah.

Rencana Perawatan
                   Prioritas masalah
                                Penentuan prioritas berdasarkan diagnosa keperawatan, dimana prioritas  tertinggi diberikan kepada masalah yang mengancam kehidupan atau keselamatan pasien. Masalah nyata diberikan perhatian / prioritas terlebih dahulu dari pada masalah potensial. Penentuan prioritas dilakukan karena tidak semua masalah dapat diatasi pada waktu yang sama (Syahlan, 2000).

No

Diagnosa Perawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Rasional
1
Gangguan pemenuhan kebutuhan O2 sehubungan dengan post asfiksia berat
Tujuan:
Kebutuhan O2 bayi terpenuhi
Kriteria:
-     Pernafasan normal 40-60 kali permenit.
-     Pernafasan teratur.
-     Tidak cyanosis.
-     Wajah dan seluruh tubuh
      Berwarna kemerahan (pink variable).
-     Gas darah normal
      PH = 7,35 – 7,45
      PCO2 = 35 mm Hg
      PO2 = 50 – 90  mmHg     
1.    Letakkan bayi terlentang dengan alas yang data, kepala lurus, dan leher sedikit tengadah/ekstensi dengan meletakkan bantal atau selimut diatas bahu bayi sehingga bahu terangkat 2-3 cm.
2.    Bersihkan jalan nafas, mulut, hidung bila perlu.
3.    Observasi gejala kardinal dan tanda-tanda cyanosis tiap 4 jam
4.   Kolaborasi dengan team medis dalam pemberian O2 dan pemeriksaan kadar gas darah arteri.
1.    Memberi rasa nyaman dan mengantisipasi flexi leher yang dapat mengurangi  kelancaran jalan nafas.
2.    Jalan nafas harus tetap dipertahankan bebas dari lendir untuk menjamin pertukaran gas yang sempurna.
3.    Deteksi dini adanya kelainan.
4.   Menjamin oksigenasi jaringan yang adekuat terutama untuk jantung dan otak. Dan peningkatan pada kadar PCO2 menunjukkan hypoventilasi

No

Diagnosa Perawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Rasional
2.
Resiko terjadinya hipotermi sehubungan dengan adanya roses persalinan yang lama dengan ditanda dingin suhu tubuh dibawah 36° C i akral
Tujuan
Tidak terjadi hipotermia
Kriteria
-    Suhu tubuh 36,5 – 37,5°C.
-    Akral hangat.
-   Warna seluruh tubuh kemerahan
1.      Letakkan bayi terlentang diatas pemancar panas (infant warmer)
2.    Singkirkan kain yang sudah dipakai untuk mengeringkan tubuh, letakkan bayi diatas handuk / kain yang kering dan hangat.
3.    Observasi suhu bayi tiap 6 jam.
4.   Kolaborasi dengan team medis untuk pemberian Infus Glukosa 5% bila ASI tidak mungkin diberikan.
1.      Mengurangi kehilangan panas pada suhu lingkungan sehingga meletakkan bayi menjadi hangat.
2.   Mencegah kehilangan tubuh melalui konduksi.
3.   Perubahan suhu tubuh bayi dapat  menentukan tingkat hipotermia.
4.   Mencegah terjadinya hipoglikemia

3.
Resiko gangguan penemuan kebutuhan nutrisi sehubungan dengan reflek menghisap lemah.
Tujuan
Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria
-     Bayi dapat minum pespeen / personde dengan baik.
-     Berat badan tidak turun lebih dari 10%.
-     Retensi tidak ada.
1.    Lakukan observasi BAB dan  BAK jumlah dan frekuensi serta konsistensi.
2.    Monitor turgor dan mukosa mulut.

3. Monitor intake dan out put.

4.   Beri ASI/PASI sesuai kebutuhan.
5. Lakukan control berat badan  setiap hari.
1.    Deteksi adanya kelainan pada  eliminasi bayi dan segera mendapat tindakan / perawatan yang tepat.
2.    Menentukan derajat dehidrasi dari turgor dan mukosa mulut.
3.    Mengetahui keseimbangan cairan tubuh (balance
4.   Kebutuhan nutrisi terpenuhi secara adekuat
5.   Penambahan penurunan berat badan termonitor.

No

Diagnosa Perawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Rasional
4.
Resiko terjadinya infeksi
Tujuan:
Selama perawatan tidak terjadi komplikasi (infeksi)
Kriteria
- Tidak ada tanda-tanda  infeksi.
-     Tidak ada gangguan fungsi tubuh.
1.    Lakukan teknik aseptik dan antiseptik dalam memberikan asuhan keperawatan
2.    Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
3.    Pakai baju khusus/ short waktu masuk ruang isolasi (kamar bayi)
4.   Lakukan perawatan  tali pusat dengan triple dye 2 kali sehari.
5.   Jaga  kebersihan (badan, pakaian) dan  lingkungan bayi.
6.   Observasi tanda-tanda infeksi dan gejala kardinal
7.   Hindarkan bayi kontak dengan sakit.
8.   Kolaborasi dengan team medis untuk pemberian antibiotik.
9.   Siapkan pemeriksaan laboratorat  sesuai advis dokter yaitu pemeriksaan DL, CRP.
1.    Pada bayi baru lahir daya tahan tubuhnya kurang / rendah.
2.    Mencegah penyebaran infeksi nosokomial.
3.    Mencegah masuknya bakteri dari baju petugas ke bayi
4.   Mencegah terjadinya infeksi dan memper-cepat pengeringan tali pusat karena  mengan-dung anti biotik, anti jamur, desinfektan.
5.   Mengurangi media untuk pertumbuhan kuman.
6.   Deteksi dini adanya kelainan
7.   Mencegah terjadinya penularan infeksi.
8.   Mencegah infeksi dari pneumonia
9.   Sebagai pemeriksaan penunjang.



No

Diagnosa Perawatan

Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Rasional
5.
Gangguan hubungan  interpersonal antara bayi dan ibu sehubungan dengan perawatan intensif.
Tujuan :
Terjadinya hubungan batin antara bayi dan ibu.
Kriteria:
-     Ibu dapat segera menggendong dan meneteki bayi.
-     Bayi segera pulang dan ibu dapat merawat  bayinya sendiri.
1.    Jelaskan para ibu / keluarga tentang keadaan bayinya sekarang.
2.    Bantu orang tua / ibu mengungkapkan perasaannya.
3.    Orientasi ibu pada lingkungan rumah sakit.
4.   Tunjukkan bayi pada saat ibu berkunjung (batasi oleh kaca pembatas).        
5.   Lakukan rawat gabung jika keadaan ibu dan bayi jika keadaan bayi memungkinkan.
1.    Ibu mengerti keadaan bayinya dan mengura-ngi kecemasan serta untuk kooperatifan ibu/keluarga.
2.    Membantu memecah-kan permasalahan yang dihadapi.
3.    Ketidaktahuan memperbesar stressor.
4.   Menjalin kontak batin antara ibu dan bayi walaupun hanya melalui kaca pembatas.
5.   Rawat gabung merupakan upaya mempererat hubungan ibu dan bayi/setelah bayi diperbolehkan pulang.

    















No

Diagnosa Perawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Rasional
6..
Resiko terjadinya hipoglikemia sehubungan dengan metabolisme yang meningkat
Tujuan:
Tidak terjadi  hipoglikemia selama masa perawatan.
Kriteria
-     Akral hangat
-     Tidak cyanosis
-     Tidak apnea
-     Suhu normal (36,5°C -37,5°C)
Distrostik normal
      (> 40 mg)
1.    Berikan nutrisi secara adekuat dan catat serta monitor setiap pemberian nutrisi.
2.    beri selimut dan bungkus bayi serta perhatikan suhu lingkungan
3.    Observasi gejala kardinal (suhu, nadi, respirasi)
4.   Kolaborasi dengan team medis untuk pemeriksaan laborat yaitu distrostik.
1.    Mencega pembakaran glikogen dalam tubuh dan untuk pemantauan intake dan out put.
2.    Menjaga kehangatan agar tidak terjadi proses pengeluaran suhu yang berlebihan sedangkan suhu lingkungan berpengaruh pada suhu bayi.
3.    Deteksi dini adanya kelainan.
4.   Untuk mencegah terjadinya  hipoglikemia lebih lanjut dan kompli-kasi yang ditimbulkan pada organ - organ tubuh yang lain.