Tampilkan postingan dengan label ASKEP ANAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASKEP ANAK. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Oktober 2010

Tetanus Neonatorum

Tetanus Neonatorum
Pengertian
Neonatus adalah organisme pada periode adaptasi kehidupan intra uterus ke kehidupan intra uterin hingga berusia kurang dari 1 bulan. (Asri Rosad, 1987)
Tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus yang disebabkan oleh clostridium tetani yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun) yang menyerang sistem saraf pusat. (Abdul Bari Saifuddin, 2000)
Etiologi
Penyebab penyakit ini adalah clostridium tetani. Kuman ini bersifat anaerobik dan mengeluarkan eksotoksin yang neorotropoik.
Epidemiologi
Clostridium tetani berbentuk batang langsing, tidak berkapsul, gram positip. Dapat bergerak dan membentuk sporaspora, terminal yang menyerupai tongkat penabuh genderang (drum stick). Spora spora tersebut kebal terhadap berbagai bahan dan keadaan yang merugikan termasuk perebusan, tetapi dapat dihancurkan jika dipanaskan dengan otoklaf. Kuman ini dapat hidup bertahun-tahun di dalam tanah, asalkan tidak terpapar sinar matahari, selain dapat ditemukan pula dalam debu, tanah, air laut, air tawar dan traktus digestivus manusia serta hewan.
Patologi
Kelainan patologik biasanya terdapat pada otak pada sumsum tulang belakang, dan terutama pada nukleus motorik. Kematian disebabkan oleh asfiksia akibat spasmus laring pada kejang yang lama. Selain itu kematian dapat disebabkan oleh pengaruh langsung pada pusat pernafasan dan peredaran darah. Sebab kematian yang lain ialah pneumonia aspirasi dan sepsis. Kedua sebab yang terakhir ini mungkin sekali merupakan sebab utama kematian tetanus neonatorum di Indonesia.
Gambaran Klinik
Masa inkubasi biasanya 3 – 10 hari. Gejala permulaan adalah bayi mendadak tidak mau atau tidak bisa menetek karena mulut tertutup (trismus), mulut mencucu seperti ikan, dapat terjadi spasmus otot yang luas dan kejang yang umum. Leher menjadi kaku dan kepala mendongak ke atas (opistotonus). Dinding abdomen kaku, mengeras dan kalau terdapat kejang otot pernafasan, dapat terjadi sianosis. Suhu dapat meningkat sampai 390 C. Naiknya suhu ini mempunyai prognosis yang tidak baik.
Diagnosis
Diagnosis tetanus neonetorum tidak susah. Trismus, kejang umum, dan mengkakunya otot-otot merupakan gejala utama tetanus neonatorum. Kejang dan mengkakunya otot-otot dapat pula ditemukan misalnya pada kernicterus, hipokalsemia, meningitis, trauma lahir, dan lain-lain. Gejala trismus biasanya hanya terdapat pada tetanus.
Pencegahan
Melaui pertolongan persalinan tiga bersih, yaitu bersih tangan, bersih alas, dan bersih alat.
  1. Bersih tangan
Sebelum menolong persalinan, tangan poenolong disikat dan dicuci dengan sabun sampai bersih. Kotoran di bawah kuku dibersihkan dengan sabun. Cuci tangan dilakukan selama 15 – 30 " . Mencuci tangan secara benar dan menggunakan sarung tangan pelindung merupakan kunci untuk menjaga lingkungan bebas dari infeksi.
  1. Bersih alas
Tempat atau alas yang dipakai untuk persaliunan harus bersih, karena clostrodium tetani bisa menular dari saluran genetal ibu pada waktu kelahiran.
  1. Bersih alat
Pemotongan tali pusat harus menggunakan alat yang steril. Metode sterilisasi ada 2, yang pertama dengan pemanasan kering : 1700 C selama 60 ' dan yang kedua menggunakan otoklaf : 106 kPa, 1210 C selama 30 ' jika dibungkus, dan 20 ' jika alat tidak dibungkus.
Perawatan tali pusat yang baik
Untuk perawatan tali pusat baik sebelum maupun setelah lepas, cara yang murah dan baik yaitu mernggunakan alkohol 70 % dan kasa steril. Kasa steril yang telah dibasahi dengan alkohol dibungkuskan pada tali pusat terutama pada pangkalnya. Kasa dibasahi lagi dengan alkohol jika sudah kering. Jika tali pusat telah lepas, kompres alkohol ditruskan lagi sampai luka bekas tali pusat kering betul (selama 3 – 5 hari). Jangan membubuhkan bubuk dermatol atau bedak kepada bekas tali pusat karena akan terjadi infeksi.
Pemberian Imunisasi Tetanus Toksoid (TT) pada ibu hamil
Kekebalan terhadap tetanus hanya dapat diperoleh melalui imunisasi TT. Ibu hamil yang mendapatkan imunisasi TT dalam tubuhnya akan membentuk antibodi tetanus. Seperti difteri, antibodi tetanus termasuk dalam golongan Ig G yang mudah melewati sawar plasenta, masuk dan menyebar melalui aliran darah janin ke seluruh tubuh janin, yang akan mencegah terjadinya tetanis neonatorum.
Imunisasi TT pada ibu hamil diberikan 2 kali ( 2 dosis). Jarak pemberian TT pertama dan kedua, serta jarak antara TT kedua dengan saat kelahiran, sangat menentukan kadar antibodi tetanus dalam darah bayi. Semakin lama interval antara pemberian TT pertama dan kedua serta antara TT kedua dengan kelahiran bayi maka kadar antibosi tetanus dalam darah bayi akan semakin tinggi, karena interval yang panjang akan mempertinggi respon imunologik dan diperoleh cukup waktu untuk menyeberangkan antibodi tetanus dalam jumlah yan cukup dari tubuh ibu hamil ke tubuh bayinya.
TT adalah antigen yang sangat aman dan juga aman untuk ibu hamil tidak ada bahaya bagi janin apabila ibu hamil mendapatkan imunisasi TT . Pada ibu hamil yang mendapatkan imunisasi TT tidak didapatkan perbedaan resiko cacat bawaan ataupun abortus dengan mereka yang tidak mendapatkan imunisasi .

Pemberia Imunisasi TT dan Lamanya Perlindungan



Dosis

Saat Pemberian

% Perlindungan 

Lama Perlindungan

TT1


TT2



TT3


TT4


TT5

Pada kunjungan pertama atau sedini mungkin pada kehamilan
Minimal 4 minggu setelah TT1
Minimal 6 bulan setelah TT2 atau selama kehamilan berikutnya
Minimal setahun setelah TT3 atau selama kehamilan berikutnya
Minimal setahun setelah TT4 atau selama kehamilan berikutnya
0

80 %
95 %

99 %

99 %

Tidak ada



3 tahun
5 tahun

10 tahun

selama usia subur

Penatalaksanaan
Medik
  1. Mengatasi kejang
    Kejang dapat diatasi dengan mengurangi rangsangan atau pemberian obat anti kejang. Obat yang dapat dipakai adalah kombinasi fenobarbital dan largaktil. Fenobarbital dapat diberikas mula-mula 30 – 60 mg parenteral kemudian dilanjutkan per os dengan dosis maksimum 10 mg per hari. Largaktil dapat diberikan bersama luminal, mula-mula 7,5 mg parenteral, kemudian diteruskan dengan dosis 6 x 2,5 mg setiap hari. Kombinasi yang lain adalah luminal dan diazepam dengan dosis 0,5 mg/kg BB. Obat anti kejang yang lain adalah kloralhidrat yang diberikan lewat rektum.
  2. Pemberian antitoksin
    Untuk mengikat toksin yang masih bebas dapat diberi A.T.S (antitetanus serum) dengan dosis 10.000 satuan setiap hari serlama 2 hari .
  3. Pemberian antibiotika
    Untuk mengatasi inferksi dapat digunakan penisilin 200.000 satuan setiap hari dan diteruskan sampai 3 hari panas turun.
  4. Tali pusat dibersihkan atau di kompres dengan alkohol 70 % atau betadin 10 %.
  5. Memperhatikan jalan nafas, diuresis, dan tanda vital. Lendir sering dihisap.

    Keperawatan
    Masalah yang perlu diperhatikan adalah bahaya terjadi gangguan pernafasan, kebutuhan nutrisi/cairan dan kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit.
    1. Bahaya terjadinya gangguan pernafasan
      Gangguan pernafasan yang sering timbul adalah apnea, yang disebabkan adanya tenospasmin yang menyerang otot-otot pernafasan sehingga otot tersebut tidak berfungsi. Adanya spasme pada otot faring menyebabkan terkumpulnya liur di dalam rongga mulut sehingga memudahkan terjadinya poneumonia aspirasi. Adanya lendir di tenggorokan juga menghalangi kelancaran lalu lintas udara (pernafasan). Pasien tetanus neonatorum setiap kejang selalu disertai sianosis terus-menerus. Tindakan yang perlu dilakukan :
      1. Baringkan bayi dalam sikap kepala ekstensi dengan memberikan ganjal di bawah bahunya.
        1. Berikan O2 secara rumat karena bayi selalu sianosis (1 – 2 L/menit jika sedang terjadi kejang, karena sianosis bertambah berat O2 berikan lebih tinggi dapat sampai 4 L/menit, jika kejang telah berhenti turunkan lagi).
        2. Pada saat kejang, pasangkan sudut lidah untuk mencegah lidah jatuh ke belakang dan memudahkan penghisapan lendirnya.
        3. Sering hisap lendir, yakni pada saat kejang, jika akan melakukan nafas buatan pada saat apnea dan sewaktu-waktu terlihat pada mulut bayi.
        4. Observasi tanda vital setiap ½ jam .
        5. Usahakan agar tempat tidur bayi dalam keadaan hangat.
        6. Jika bayi menderita apnea :
  • Hisap lendirnya sampai bersih.
  • O2 diberikan lebih besar (dapat sampai 4 L/ menit).
    • Letakkan bayi di atas tempat tidurnya/telapak tangan kiri penolong, tekan-tekan bagian iktus jantung di tengah-tengah tulang dada dengan dua jari tangan kanan dengan frekuensi 50 – 6 x/menit.
    • Bila belum berhasil cabutlah sudut lidahnya, lakukan pernafasan dengan menutup mulut dan hidung bergantian secara ritmik dengan kecepatan 50 – 60 x/menit, bila perlu diselingi tiupan.

  1. Kebutuhan nutrisi/cairan
    Akibat bayi tidak dapat menetek dan keadaan payah, untuk memenuhi kebutuhan makananya perlu diberikan infus dengan cairan glukosa 10 %. Tetapi karena juga sering sianosis maka cairan ditambahkan bikarbonas natrikus 1,5 % dengan perbadingan 4 : 1. Bila keadaan membaik, kejang sudah berkurang pemberian makanan dapat diberikan melalui sonde dan selanjutnya sejalan dengan perbaikan bayi dapat diubah memakai dot secara bertahap.
  2. Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit
    Kedua orang tua pasien yang bayinya menderita tetanus peru diberi penjelasan bahwa bayinya menderita sakit berat, maka memerlukan tindakan dan pengobatan khusus, kerberhasilan pengobatan ini tergantung dari daya tahan tubuh si bayi dan ada tidaknya obat yang diperlukan hal ini mengingat untuk tetanus neonatorum memerlukan alat/otot yang biasanya di RS tidak selalu tersedia dan harganya cukup mahal (misalnya mikrodruip). Selain itu yang perlu dijelaskan ialah jika ibu kelak hamil lagi agar meminta suntikan pencegahan tetanus di puskesmas, atau bidan, dan minta pertolongan persalinan pada dokter, bidan atau dukun terlatih yang telah ikut penataran Depkes. Kemudian perlu diberitahukan pula cara pearawatan tali pusat yang baik.

Kamis, 14 Oktober 2010

NEFROTIK SYNDROME

DEFINISI
Nefrotik Syndrome adalah penyakit dengan gejala edema, proteinuria, hipoalbunemia dan hiperkolesterolemia (Rusepno, H, dkk. 2000, 832).

ETIOLOGI
Sebab pasti belum jelas. Saat ini dianggap sebagai suatu penyakit autoimun. Secara umum etiologi dibagi menjadi :
a.     Nefrotic syndrome bawaan.
Gejala khas adalah edema pada masa neonatus.
b.     Nefrotic syndrome sekunder
Penyebabnya adalah malaria, lupus eritematous diseminata, GNA dan GNK, bahan kimia dan amiloidosis.
c.      Nefrotic syndrome idiopatik
d.     Sklerosis glomerulus.

PATOFISIOLOGI.
Adanya peningkatan permiabilitas glomerulus mengakibatkan proteinuria masif sehingga terjadi hipoproteinemia. Akibatnya tekanan onkotik plasma menurun karean adanya pergeseran cairan dari intravaskuler ke intestisial.
Volume plasma, curah jantung dan kecepatan filtrasi glomerulus berkurang mengakibatkan retensi natrium. Kadar albumin plasma yang sudah merangsang sintesa protein di hati, disertai peningkatan sintesa lipid, lipoprotein dan trigliserida.

GEJALA KLINIS.
-        Edema, sembab pada kelopak mata
-        Rentan terhadap infeksi sekunder
-        Hematuria, azotemeia, hipertensi ringan
-        Kadang-kadang sesak karena ascites
-        Produksi urine berkurang

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
-        Hipoalbuminemia
-        Kadar urine normal
-        Anemia defisiensi besi
-        LED meninggi
-        Kalsium dalam darah sering merendah
-        Kadang-kdang glukosuria tanpa hiperglikemia.
PENATALAKSANAAN
-        Istirahat sampai edema sedikit
-        Protein tinggi 3 – 4 gram/kg BB/hari
-        Diuretikum
-        Kortikosteroid
-        Antibiotika
-        Punksi ascites
-        Digitalis bila ada gagal jantung.


KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA NEFROTIC SYNDROME

PENGKAJIAN

Identitas.
Umumnya 90 % dijumpai pada kasus anak. Enam (6) kasus pertahun setiap 100.000 anak terjadi pada  usia kurang dari 14 tahun. Rasio laki-laki dan perempuan yaitu 2 : 1. Pada daerah endemik malaria banyak mengalami komplikasi nefrotic syndrome.

Riwayat Kesehatan.
Keluhan utama.
Badan bengkak, muka sembab dan napsu makan menurun
Riwayat penyakit dahulu.
Edema masa neonatus, malaria, riwayat GNA dan GNK, terpapar bahan kimia.
Riwayat penyakit sekarang.
Badan bengkak, muka sembab, muntah, napsu makan menurun, konstipasi, diare, urine menurun.
Riwayat kesehatan keluarga.
Karena kelainan gen autosom resesif. Kelainan ini tidak dapat ditangani dengan terapi biasa dan bayi biasanya mati pada tahun pertama atau dua tahun setelah kelahiran.
Riwayat kehamilan dan persalinan
Tidak ada hubungan.
Riwayat kesehatan lingkungan.
Endemik malaria sering terjadi kasus NS.

Imunisasi.
Tidak ada hubungan.

Respon hospitalisasi
sedih, perasaan berduka, gangguan tidur, kecemasan, keterbatasan dalam bermain, rewel, gelisah, regresi, perasaan berpisah dari orang tua, teman.


Riwayat nutrisi.
Usia pre school nutrisi seperti makanan yang dihidangkan dalam keluarga. Status gizinya adalah dihitung dengan rumus (BB terukur dibagi BB standar) X 100 %, dengan interpretasi : < 60 % (gizi buruk), < 30 % (gizi sedang) dan > 80 % (gizi baik).

PENGKAJIAN PERSISTEM.

Sistem pernapasan.
Frekuensi pernapasan 15 – 32 X/menit, rata-rata 18 X/menit, efusi pleura karena distensi abdomen
Sistem kardiovaskuler.
Nadi 70 – 110 X/mnt, tekanan darah 95/65 – 100/60 mmHg, hipertensi ringan bisa dijumpai.
Sistem persarafan.
Dalam batas normal.
Sistem perkemihan.
Urine/24 jam 600-700 ml, hematuri, proteinuria, oliguri.
Sistem pencernaan.
Diare, napsu makan menurun, anoreksia, hepatomegali, nyeri daerah perut, malnutrisi berat, hernia umbilikalis, prolaps anii.
Sistem muskuloskeletal.
Dalam batas normal.
Sistem integumen.
Edema periorbital, ascites.
Sistem endokrin
Dalam batas normal
Sistem reproduksi
Dalam batas normal.
Persepsi orang tua
Kecemasan orang tua terhadap kondisi anaknya.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

ü   Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kehilangan protein sekunder terhadap peningkatan permiabilitas glomerulus.

ü   Perubahan nutrisi ruang dari kebutuhan berhubungan dengan malnutrisi sekunder terhadap kehilangan protein dan penurunan napsu makan.

ü   Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunitas tubuh yang menurun.

ü   Kecemasan anak berhubungan dengan lingkungan perawatan yang asing (dampak hospitalisasi).

RENCANA KEPERAWATAN.

1.         Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kehilangan protein sekunder terhadap peningkatan permiabilitas glomerulus.

Tujuan :  volume cairan tubuh akan seimbang dengan kriteria hasil penurunan edema, ascites, kadar protein darah meningkat, output urine adekuat 600 – 700 ml/hari, tekanan darah dan nadi dalam batas normal.

          Intervensi :
                                 Catat intake dan output secara akurat.             
                                        Kaji dan catat tekanan darah, pembesaran abdomen, BJ urine
Timbang berat badan tiap hari dalam skala yang sama
                                 Berikan cairan secara hati-hati dan diet rendah garam.
                                 Diet protein 1-2 gr/kg BB/hari.


2.        Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan malnutrisi sekunder terhadap kehilangan protein dan penurunan napsu makan.

Tujuan :        kebutuhan nutrisi akan terpenuhi dengan kriteria hasil napsu makan baik,     tidak terjadi hipoprtoeinemia, porsi makan yang dihidangkan dihabiskan, edema dan ascites tidak ada.

          Intervensi :
Catat intake dan output makanan secara akurat
Kaji adanya anoreksia, hipoproteinemia, diare.
Pastikan anak mendapat makanan dengan diet yang cukup


3.        Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunitas tubuh yang menurun.

Tujuan :  tidak terjadi infeksi dengan kriteria hasil tanda-tanda infeksi tidak ada, tanda vital dalam batas normal, ada perubahan perilaku keluarga dalam melakukan perawatan.

          Intervensi :
Lindungi anak dari orang-orang yang terkena infeksi melalui pembatasan pengunjung.
Tempatkan anak di ruangan non infeksi
Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan.
Lakukan tindakan invasif secara aseptik



4.        Kecemasan anak berhubungan dengan lingkungan perawatan yang asing (dampak hospitalisasi).

Tujuan :           kecemasan anak menurun atau hilang dengan kriteria hasil kooperatif pada tindakan keperawatan, komunikatif pada perawat, secara verbal mengatakan tidak takut.

Intervensi :
                                                  Validasi perasaan takut atau cemas
Pertahankan kontak dengan klien
Upayakan ada keluarga yang menunggu
Anjurkan orang tua untuk membawakan mainan atau foto keluarga.

Senin, 11 Oktober 2010

BRONKHOPNEUMONIA

A.    PENGERTIAN
Pneumonia adalah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing. Atau pneumonia adalah suatu peradangan alveoli atau pada perenchim paru yang terjadi pada anak.
Bronkhopneumonia adalah pneumonia yang terjadi pada lobulus paru yang disebut juga Pneumonia Lobularis.

B.     ETIOLOGI
1.      Virus
2.      Bakteri
3.      Mycoplasma
4.      Aspirasi benda asing, dan lain-lain.

C.    TANDA DAN GEJALA
1.      Serangan akut dan membahayakan
2.      Demam tinggi (Pneumonia virus bagian bawah)
3.      Batuk
4.      Rules (Ronchi)
5.      Wheezing
6.      Sakit kepala, malaise, myalgia (pada anak)
7.      Nyeri abdomen

Pada bronchopneumonia berupa:
Suhu tubuh dapat naik mendadak sampai 39-400 c, dan kadang disertai kejang karena demam yang tinggi. Anak sangat gelisah, dispneu, pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan cuping hidung serta sianosis sekitar hidung dan mulut. Kadang-kadang disertai muntah dan diare. Batuk biasanya tidak ditemukan pada permulaan penyakit, tetapi setelah beberapa hari mula-mula kering kemudian menjadi produktif.
  
D.    PATOFISIOLOGI
Adanya gangguan pada terminal jalan nafas dan alveoli oleh mikroorganisme patogen yaitu virus dan staphylococcus, H. Influenza dan Streptococcus pneumonie bakteri.
Terdapat infiltrat yang biasanya mengenai pada multiple lobus, terjadinya destruksi sel dengan meninggalkan debuis selluler ke dalam lumen yang mengkibatkan gangguan fungsi alveolar dan jalan nafas.

E.     PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan terapeutik:
-          Pengobatan supportive bila virus pneumonia
-          Bila kondisi berat harus dirawat
-          Berikan oksigen, fisioterapi dada, dan cairan intravena
-          Antibiotik sesuai dengan program
-          Pemeriksaan sensitifitas untuk pemberian antibiotik

F.     PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.      Foto thorax
2.      WBC (White Blood Cell) biasanya < 20.000 cell/mm3
3.      Laboratorium

G.    PROGNOSIS
Dengan pemberian antibiotik yang tepat dan adekuat, mortalitas dapat diturunkan sampai kurang dari 1 %. Bila pasien disertai malnutrisi energi protein (MEP) dan pasien yang datang terlambat angka mortalitasnya masih tinggi.

H.    DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI
1.      Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan meningkatnya sekret.
2.      Ketidakefektifan pola nafas b.d obstruksi  bronchial
3.      Gangguan pertukaran gas b.d meningkatnya sekresi dan akumulasi exudates.
Intervensi:
-          Kaji status pernafasan setiap 2 jam, suara nafas, rhytim, penggunaan otot-otot accessory, warna kulit, tanda-tanda vital dan tingkat kegelisahan.
-          Buat jadwal fisioterapi dada sebelum makan dan istirahat.
-          Tinggikan posisi kepala diatas tempat tidur (hindari penggunaan posisi duduk pada bayi karena dapat meningkatkan tekanan diafragma)
-          Lakukan perubahan posisi setiap 2 jam atau sesuai kondisi
-          Bila anak toleran, berikan kebebasan untuk memilih posisi yang nyaman .
-          Kaji batuk dan kedalaman pernafasan
-          Berikan oksigen sesuai program dan monitor “Pulse Oximetry”
-          Rencanakan dan buat jadwal secara periodik untuk istirahat
-          Berikan terapi bermain sesuai dengan kondisi (buku-buku, puzzles, video games, dan lain-lain)
4.      Kurangnya volume cairan b.d demam, menurunnya intake, dan tachypneu.
Intervensi:
-          Kaji turgor kulit dan membran mukosa
-          Berikan cairan peroral atau inravena terapi
-          Monitor intake dan output
-          Kaji tanda-tanda dehidrasi (oliguria, ubun-ubun cekung, BB menurun)
-          Timbang berat badan
-          Kaji demam setiap 4 jam dan berikan antipiretik, analgetik dan antibiotik sesuai program
5.      Kecemasan b.d dyspneu dan hospitalisasi
Intervensi:
-          Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan dengan bahasa yang mudah dimengerti
-          Anjurkan orang tua untuk menemani anak
-          Anjurkan orang tua dan anak mengekspresikan perasaan secara verbal dan perhatian serta respon yang empati
6.      Kurangnya pengetahuan b.d proses penyakit dan perawatan dirumah
Intervensi:
-          Jelaskan tentang proses penyakit, pengobatan dan perawatannya
-          Instruksikan untuk memberikan cairan yang adekuat dan istirahat
-          Instruksikan orang tua untuk memberikan obat antipiretik bila demam dan suhu diatas 38,40c sesuai program
-          Hindari merokok dekat anak yang sakit
-          Instruksikan orang tua untuk melakukan follow up bagi anaknya sesuai program yang dijadwalkan



Jumat, 08 Oktober 2010

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN KEJANG DEMAM

Definisi.
      Kejang Demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh ( suhu rectal lebih dari 38oC ) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang ( konvulsi ) merupakan akibat dari pembebasan listrik yang tidak terkontrol  dari sel saraf korteks cerebral yang ditandai dengan serangan tiba-tiba, terjadi gangguan kesadaran, aktifitas motorik dan atau gangguan fenomena sensori.

     Pedoman untuk membuat diagnosa kejang demam sederhana ialah :
1.      Umur anak ketika kejang antara 6 bulan dan 4 tahun.
2.      Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tidak lebih dari 15 menit.
3.      Kejang bersifat umum.
4.     Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam.
5.     Frekuensi  bangkitan kejang di dalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali.      

Etiologi
 Hingga kini belum diketahui dengan pasti.  Demam sering disebabkan infeksi saluran pernafasan atas, otitis    media, pneumonia, gastroenteritis dan infeksi saluran kemih.  Kejang tidak selalu timbul pada suhu yang tinggi. Kadang – kadang demam yang tidak begitu tinggi dapat menyebabkan demam.

Penatalaksanaan
Pemberantasan kejang secepat mungkin
Segera diberikan diazepam intravena           ®                      dosis rata-rata  0,3 mg/kg
Atau                                                                                                                        dosis  £  10 kg : 5 mg
diazepam rectal                                                                                     dosis ≥  10 kg : 10 mg
bila kejang tidak berhenti                                                                 
tunggu 15 menit


dapat diulang dengan cara/dosis yang sama
                               

                                                                berikan dosis awal fenobarbital
kejang berhenti.                                                    dosis         :               neonatus                                :               30 mg I.M
                                                                                                                bulan – 1 tahun     :               50 mg I.M
                                                                                                                                >  1 tahun              :               75 mg I.M
Pengobatan fase akut
Seringkali kejang berhenti sendiri.  Pada waktu kejang pasien dimiringkan untuk mencegah aspirasi ludah atau muntahan.  Jalan nafas harus bebas agar oksigenasi terjamin.  Perhatikan keadaan vital seperti kesadaran, tekanan darah, suhu, pernafasan dan fungsi jantung.  Suhu tubuh yang tinggi diturunkan dengan kompres dingin dan pemberian antipiretik. 

Pengobatan Profilaksis.
-       Profilaksis Intermiten saat demam
Diberikan Diazepam secara oral dengan dosis 0,3 – 0,5 mg/kg BB/hari dibagi dalam 3 dosis saat pasien demam. Diazepam dpt pula diberikan secara intra rektal tiap 8 jam sebanyak 5 mg bila BB < 10 kg dan 10 mg bila BB > 10 kg setiap pasien menunjukkan suhu lebih dari 38,5 oC.
-       Profilaksis terus menerus dengan antikonvulsan setiap hari.
Berguna untuk mencegah berulangnya kejang demam berat yang dapat menyebabkan kerusakan otak.  Profilaksis terus-menerus setiap hari dengan Fenobarbital dosis maintenance  8-10 mg/kg BB dibagi  2 – 3 dosis pada hari pertama, kedua diteruskan 4-5 mg/kg BB dibagi
2 – 3 dosis pada hari berikutnya.

Pengobatan penunjang
Pengobatan penunjang saat serangan kejang adalah :
-       Semua pakaian ketat dibuka
-       Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung
-       Usahakan agar jalan napas bebas untuk menjamin  kebutuhan oksigen
-       Pengisapan lendir harus dilakukan secara teratur dan diberikan oksigen

ASUHAN KEPERAWATAN

 Pengkajian

a.        Aktifitas / Istirahat
Gejala              :  Keletihan, kelemahan umum
Keterbatasan dalam beraktifitas / bekerja yang ditimbulkan oleh diri sendiri/     orang terdekat / pemberi asuhan kesehatan atau orang lain.
Tanda             :  Perubahan tonus / kekuatan otot
   Gerakan involunter / kontraksi otot  ataupun sekelompok otot.

b.        Sirkulasi
Gejala              :  Hipertensi, peningkatan nadi sianosis.
Tanda           : Tanda vital normal atau depresi dengan penurunan nadi dan pernafasan.


c.        Eliminasi
Gejala              :  Inkontinensia episodik.

Tanda        :  Peningkatan tekanan kandung kemih dan tonus sfingter.

Otot relaksasi yg menyebabkan inkontenensia ( baik urine/fekal ).

d.       Makanan dan cairan

Gejala              :  Sensitivitas terhadap makanan, mual / muntah yang

                                           berhubungan dengan aktifitas kejang.

e.        Neurosensori
Gejala             :       Riwayat sakit kepala, aktifitas kejang berulang, pingsan, pusing. Riwayat trauma kepala, anoksia dan infeksi cerebral.

f.         Nyeri / kenyaman.
Gejala             :       Sakit kepala, nyeri otot / punggung pada periode posiktal.
Tanda            :       Sikap / tingkah laku yang berhati – hati. Perubahan pada tonus otot. Tingkah laku distraksi / gelisah.

g.        Pernafasan
   Gejala             :        Apneu, gigi mengatup, sianosis, pernafasan menurun / cepat, peningkatan sekresi mukus.
                      
  1. Diagnosa Keperawatan.
 Diagnosa  keperawatan yang sering muncul
a.        Resiko terhadap bersihan jalan nafas / pola nafas tidak efektif berhubungan dengan relaksasi lidah sekunder akibat gangguan persyarafan otot.
b.        Resiko terhadap cedera yang berhubungan dengan gerakan tonik / klonik yang tidak terkontrol selama episode kejang.
c.        Peningkatan suhu tubuh ( hypertermia ) berhubungan dengan proses penyakit.
d.       Resiko terjadinya kejang ulang berhubungan dengan hiperthermi.
e.        Resiko terhadap ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik berhubungan dengan kurang pengetahuan ( orang tua ) tentang kondisi, pengobatan dan aktifitas  kejang selama episode kejang.

  1. Rencana Keperawatan
Menurut Carpenito ( 1999 ) , rencana keperawatannya meliputi :
a.         Resiko terhadap bersihan jalan nafas / pol tidak efektif berhubungan dengan relaksasi lidah sekunder akibat gangguan persyarafan otot.
Intervensi :
1). Baringkan klien di tempat yang rata, kepala dimiringkan dan pasang   tongue spatel.
2).  Singkirkan benda – benda yang ada disekitar pasien, lepaskan pakaian yang mengganggu pernafasan ( misal : gurita ).
3).  Lakukan penghisapan sesuai indikasi.
4).  Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian O2 dan obat anti kejang.

b.         Resiko terhadap cedera yang berhubungan dengan gerakan tonk / klonik yang tidak terkontrol selama episode kejang.
Intervensi :
1).  Jauhkan benda – benda yang ada disekitar klien. 
2). Kaji posisi lidah, pastikan bahwa lidah tidak jatuh ke belakang, menyumbat jalan nafas.
3).  Awasi klien dalam waktu beberapa lama selama / setelah kejang.
4).  Observasi tanda – tanda vital setelah kejang.
5).  Kolaborasi dnegna dokter untuk pemberian obat anti kejang.

c.          Resiko terjadi kejang ulang berhubungan dengan hipertermi.
Intervensi :
1).  Longgarkan pakaian, berikan pakaian tipis yang mudah menyerap keringat.
2).  Observasi tanda vital tiap 4 jam atau lebih.
3).  Kaji saat timbulnya demam.
4). Berikan penjelasan pada keluarga tentang hal-hal yang dapat dilakukan.
5).  Anjurkan pada keluarga untuk memberikan masukan cairan 1,5 liter/hari.
6).  Beri kompres dingin terutama bagian frontal dan axila.
7).  Kolaborasi dalam pemberian terapi cairan dan obat antipiretik.

d.         Peningkatan suhu tubuh ( hypertermia ) berhubungan dengan proses penyakit.
Intervensi :
1).  Observasi tanda vital tiap 4 jam atau lebih.
2). Kaji saat timbulnya demam.
3). Berikan penjelasan pada keluarga tentang hal-hal yang dapat dilakukan.
4). Anjurkan pada keluarga untuk memberikan masukan cairan 1,5 liter/hari.
5). Beri kompres dingin terutama bagian frontal dan axila.
6). Kolaborasi dalam pemberian terapi cairan dan obat antipiretik.

e.          Resiko terhadap ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik  berhubungan dengan ketidakcukupan pengetahuan ( orang tua ) tentang kondisi, pengobatan, aktifitas, kejang selama perawatan.
Intervensi :
1.         Jelaskan pada keluarga tentang pencegahan, pengobatan dan aktifitas selama kejang.
2.        Jelaskan pada keluarga tentang faktor – faktor yang menjadi pencetus timbulnya kejang, misal : peningkatan suhu tubuh.
3.        Jelaskan pada keluarga, apabila terjadi kejang berulang atau kejang terlalu lama walaupun diberikan obat, segera bawa klien ke rumah sakit terdekat.