Hijrah nabi bukan sebagaimana banyak orang melakukan migrasi, yaitu untuk mendapatkan pekerjaan. Hijrah Nabi dilakukan dalam rangka membangun peradaban yang mulia. Sebagai seorang Rasul ia mendapatkan tugas mulia menyebarkan kebenaran, kebaikan, dan kemuliaan yang datang dari Allah. Tugas itu, tidak mudah ditunaikan. Nabi harus menanggung beban dan resiko yang sedemikian berat. Memang, jika kita mengikuti sejarah perjalanan hidup para nabi dalam menyampaikan misi dakwahnya tidak pernah mengalami hal mudah. Tugas-tugas itu selalu mendapatkan tantangan yang luar biasa beratnya. Namun, tantangan itu selalu dihadapi dengan penuh keikhlkasan, berani, sabar dan istiqomah.
Manusia disebut berkualitas, tidak cukup hanya berhasil mengembangkan aspek intelektual, melainkan juga spiritualnya. Melalui spiritual, manusia akan mengenal dan selalu berkomuniasi dengan Dzat Pencipta. Melalui spiritual pula, manusia akan mengenal dirinya secara mendalam. Dengan kegiatan spiritual maka orang akan membayangkan dari mana, sedang di mana, dan akan ke mana kehidupan ini berlanjut. Aspek penting yang dibangun oleh Nabi adalah akhlak. Bahkan kehadiran nabi, sesungguhnya adalah untuk membangun akhlak yang mulia. Akhlak dipandang sebagai fondasi yang harus dibangun secara kokoh. Keadaan masyarakat sesungguhnya tergantung dari akhlak mereka. Jika akhlak ini berhasil terbangun maka semua aspek, baik politik, ekonomi, social, budaya dan lain-lain akan terbangun dengan sendirinya. Sebabliknya, apapun yang dilakukan jika akhlak mereka runtuh maka, runtuh pula semua sendi kehidupan ini. Dalam sejarahnya, tidak pernah nabi memberikan target-target yang terkait dengan pengembangan ekonomi, social, ilmu pengetahuan, politik dan lain-lain. Tetapi dengan pembangunan akhlak individu dan masyarakat, maka semua aspek itu terbangun dengan sendirinya.
Nabi tatkala membangun masyarakat Madinah, tidak pernah berbicara tentang jumlah anggaran yang diperlukan, rancangan-rancangan pembangunan sebagaimana dilakukan oleh pemimpin sekarang. Hasilnya ternyata lebih kokoh, bertahan lama, terpelihara hingga sekarang ini. Selain membangun manusia melalui tempat ibadah, dan konsep kebersamaan yang disebut dengan berjamaáh, nabi mengajak dan sekaligus memberi contoh agar antar sesama saling mengenal, memahami, saling menghargai, mencintai, dan akhirnya terjadi tolong menolong. Nabi tidak pernah mengajarkan agar berebut, kecuali berebut untuk saling melakukan kebaikan, atau disebut sebagai fastabiqul khairaat. Nabi mengajak dan sekaligus memberi contoh bagaimana menyayangi dan menolong yang lemah, yang miskin, yang cacat, yang bodoh, anak-anak, para janda, orang tua yang sudah tidak mampu. Nabi mengajarkan bagaimana berbuat baik dengan sesama, keluarga, orang tua, guru dan para pemimpinnya. Selain itu bagaimana pihak-pihak yang kuat dalam berbagai hal harus menolong pihak-pihaik yang lemah, yang perlu ditolong.
Nabi mengajari bagaimana bertetangga, menghormati tamu, memperlakukan orang yang menderita atau lagi susah, dan juga orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Nabi mengajarkan tentang hidup yang dipandang mulia. Nabi membangun akhlak secara utuh terhadap orang-orang yang hidup pada saat itu dan hari kemudian. Semua itu dilakukan dengan benar, amanah, tabligh, dan fathonah. Selain itu, nabi juga selalu ikhlas, sabar dan istiqomah. Inilah di antara yang bisa digambarkan dari apa yang dilakukan oleh Nabi setelah hijrah ke Madinah dalam membangun masyarakatnya.